Entri Populer

Senin, 05 Desember 2011

Ekspedisi Gunung Lawu













Serasa di Komik Silat
Oleh Eman Mulyatman

Sahabat Alam diundang FPI Surakarta untuk mendaki Gunung Lawu. Alhamdulillah ya, sesuatu banget!

Setiap perjalanan punya cerita. Dari perjalanan itu, kalau jeli maka akan banyak hikmah yang bisa kita dapatkan. Seperti pendakian ke Lawu. Boleh dibilang tidak ada rencana. Waktu itu SAHABAT ALAM sedang melakukan wawancara dengan Ustadz Chairul RS, Ketua DPW FPI Surakarta. Di tengah wawancara, Ustadz mengabarkan bahwa Sabtu (1/10) Laskar FPI Surakarta berencana untuk mendaki gunung Lawu. “Kita biasa kok naik gunung, untuk menjaga stamina,” katanya sedikit menantang.

Wow! SAHABAT ALAM tentu tidak menyia-nyiakan undangan ini. Apalagi sudah lama mengidam-idamkan untuk naik ke gunung yang konon sebagai pusat mistik di Tanah Jawa ini. Hmm….bener-bener tantangan nih. Untuk Sob eL-Ka ketahui aja, Gunung Lawu (3.265 m) yang punya nama asli Wukir Mahendra terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang terkena erosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous. Gunung Lawu memiliki tiga puncak: Puncak Argo Dalem, Argo Dumiling dan Argo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.

Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletak Astana Giribangun, mausoleum untuk keluarga Presiden kedua Indonesia, Suharto.

Jalur Pendakian
Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Sura banyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.

Kami naik dari Tawangmangu. Ustadz Choirul menunjuk Warno sebagai Pimpinan Pendakian. Penunjukkan ini berdasarkan pengalamannya yang sudah lebih dari lima kali mendaki Lawu. Langkah Pendakian dimulai dengan berdoa, setelah melewati Pos Pendaftaran. Bismillah, 12 orang mulai melangkah.

Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang di Tawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.

Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5. Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.

Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata.

Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke4 baru direnovasi,jadi untuk saat ini di pos4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4.

Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejauhan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos 2 terdapat Watu Gedhe, ada juga yang menyebut Watu Iris (karena seperti di iris).

Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam. Untuk mendaki melalui Cemorosewu (bagi pemula) janganlah mendaki di siang hari karena medannya berat untuk pemula.

Baru saja melewati Pos 2 ada kejadian unik sekaligus bikin hati berdebar-debar. Ada salah seorang rekan yang membawa cairan methanol di botol air mineral. Ketika air itu berpindah tangan, tanpa sengaja terminum oleh rekan yang lain yang mendapatkan giliran membawanya.

Rekan itu pun berusaha memuntahkannya. Yang lain berusaha menetralkannya dengan memberi Susu kental manis. “Insya Allah gak apa-apa,” kata Ustadz Choirul mengembalikan semangat.

“Iya ga apa-apa wong preman-preman itu juga suka minum methanol, digunakan sebagai campuran Ciu, minuman oplosan,” sahut rekan lainnya.

Alhamdulillah yang dikhawatirkan tak terjadi, kami pun melanjutkan perjalanan. Dalam pendakian dari Cemorosewu menuju puncak, kita akan menjumpai 4 buah pondok pada ketinggian berturut-turut, yaitu 2.100 m, 2.300 m, 2.500 m dan 2.800 m dan Pesanggrahan Argo Dalem pada ketinggian 3.100 m dari permukaan air laut.

Memasuki Pos 3 Ustadz Choirul menginstruksikan, “Yang mau melanjutkan silakan yang mau istirahat silakan.” Aku yang tengah buang air kecil mendengar instruksi itu langsung saja jalan mengikuti langkah tiga pendaki di depan. Rupanya inilah awal dari cerita.

Begitu menyadari ketiga rekan di depan berjalan agak pelan, saya bermaksud menyusulnya.

“Sendiri Mas?” katanya?

“Lho? Bukannya ente dari FPI?”

“O bukan Mas, kami dari MTA Solo,” katanya.

Ternyata mereka adalah tim lain. Waduh! Ternyata aku sudah terpisah jauh dengan teman-teman FPI. Mau balik, boros tenaga lagipula medannya cukup berat. Khawatir terjadi apa-apa. Akhirnya, aku putuskan bergabung dengan mereka. Melanjutkan perjalanan, tanpa air, hanya berbekal seplastik permen coklat. Lainnya, aku cuma bawa kamera. La haula wala quwatta illa billah.

Aku segera menata diri, memperkuat tekad. “Wah kalo, gitu, saya ikut gabung ya, mudah-mudahan teman-teman bisa menyusul.”

Selanjutnya perjalanan bagai merayap pelan. Menjelang Sendang Drajat kami shalat subuh. Angin menampar-nampar tubuh kami. Kencang dan rasanya seperti mau menerbangkan kami. Alhamdulillah kami tiba di Sendang Drajat bermandikan cahaya mentari pagi. Sunrise muncul sebentar, kami bergantian mengabadikannya. Subhanallah.

Di sendang Drajat, aku berpisah dengan teman-teman dari MTA alias Majelis Tafsir Al-Qur’an. Kuputuskan untuk menunggu teman-teman FPI. Di sendang Drajat ini, terdapat sebuah bangunan dari seng yang dapat digunakan untuk bermalam dan berlindung dari hujan dan angin. Terdapat warung makanan dan minuman yang sangat membantu bagi pendaki dan peziarah yang kelelahan, lapar, dan kedinginan. Inilah keunikan Gunung Lawu dengan ketinggian 3.265 mdpl, terdapat warung di dekat puncaknya.

Ketika memeriksa kantong celana, ada duit Rp 8000. Kepada penjaga warung di sendang Drajat aku memesan mi instan dan teh manis. Yang segera saja berpindah ke perut. Lumayan hangat.

Aku sempat tidur-tidur ayam di Gua Selarong salah satu gua yang diberi nama sama dengan Gua pertahanan Pangeran Diponegoro. Dua orang pendaki dari Surabaya, lumayan menemani ngobrol sambil menunggu teman-teman FPI. Dari dia aku mendengar cerita tentang Sendang Drajat yang airnya tak pernah habis. Padahal Oktober ini kemarau sedang hebat-hebatnya. Aku menyaksikan dua orang peziarah yang mengambil air dari Sendang itu. Sendang Drajad, sumber air ini berupa sumur dengan garis tengah dua meter dan memiliki kedalaman dua meter.

Di lokasi ini ada dua gua, yang merupakan tempat tafakurnya Sunan Drajat, salah seorang Putra Sunan Ampel. Aku berdecak kagum, hebat ya Sunan Drajat  pada masa-masa itu sudah sampai ke puncak Lawu dan mampu membuat sumur. Padahal sepanjang perjalanan yang aku tapaki adalah batu. Tapi, setengah jam yang aku tunggu belum muncul juga. Aku segera mengayunkan langkah kembali, melanjutkan perjalanan menuju Puncak. Lone Ranger!....                   

Di atas puncak Argo Dumilah terdapat satu tugu. Di sini aku menikmati udara puncak gunung Lawu. Seluas mata memandang, lega rasanya hati ini. Hilang segala letih.

Puncak Argo Dumilah pada saat tertutup awan sangat indah, kita menyaksikan beberapa puncak lainnya seperti pulau-pulau kecil yang dibatasi oleh lautan awan, kita merasa berada di atas awan-awan seperti di kahyangan. Bila udara bersih tanpa awan kita bisa melihat Samudera Indonesia.
Kita dapat melihat pantulan matahari di Samudera Indonesia, deburan dan riak ombak Laut Selatan sepertinya sangat dekat. Sangat jelas terlihat kota Wonogiri juga kota-kota di Jawa Timur. Tampak waduk Gajah mungkur juga telaga Sarangan.

Terdapat padang rumput pegunungan banjaran Festuca Nubigena yang mengelilingi sebuah danau gunung di kawah tua menjelang Pos terakhir menuju puncak pada ketinggian 3.200 m dpl yang biasanya kering di musim kemarau. Tapi, aku tak berlama-lama di Argo Dumilah, karena memikirkan teman-teman FPI.

Aku segera turun. Ya terpaksa sendiri. Karena cuaca terang dan tak terlalu mengkhawatirkan. Tapi, padang rumput yang luas ini cukup bikin bingung. Aku sempat salah arah. Sesuai dengan teori, kalau tersesat lebih baik diam dan balik saja kearah semula. Ketika sampai di titik jalan tikungan awal aku tersesat, justru ada Warno.

“Woi…” kami teriak berbalasan. Ketika berpelukan, aku mendengar sayup-sayup namaku dipanggil. Gemanya terasa mengharukan.

“Itu teman-teman yang mencari, ente dinyatakan hilang,” katanya setengah tertawa.

Wah, rupanya begitu aku terpisah dari rombongan Ustadz Choirul memecah tim, 2 orang melapor ke Pos 1 di Bawah, satu tim Ke Jagawana, satu tim tunggu di Pos 3 dan lainnya menyusul ke atas. Aku segera menjelaskan, mengapa sampai terpisah. Rupanya di Pos 3 aku mengikuti rombongan lain. Memang rekan-rekan FPI ini yang aku kenal cuma satu Ustadz Choirul. Tapi, aku segera meminta maaf, atas keteledoran ini. Mereka maklum.

Serasa di Komik Silat
Selanjutnya Warno mengajak aku ke puncak lainnya, Argo Dalem dan Argo Dumiling. Argo Dalem merupakan suatu tempat sepertinya Kelenteng. Di sekitar puncak Argo Dumilah yang disebut Hargo Dalem yang banyak disinggahi para peziarah. Di sekitar Hargo Dalem ini banyak terdapat bangunan. Dia lalu bercerita tentang Sumur Jalatunda, sebuah gua yang disebut Sumur Jalatunda menjelang puncak, gua ini gelap dan sangat curam turun ke bawah kurang lebih sedalam 5 meter. Menurut pengakuan Warno, dia pernah ke sumur itu, waktu tim-nya kehabisan air. Ada batu Gedhe, Sarangan sampai Cemorosewu. Ada juga Pawon Sewu terletak di dekat pos 5 Jalur Cemoro Sewu. Tempat ini berbentuk tatanan/susunan batu yang menyerupai candi. Dulunya digunakan bertapa para abdi Raja Parabu Brawijaya V.

Cerita Warno mengingatkan aku pada komik silat Indonesia era 70-80-an yang menjadi kegemaranku. Api di bukit Menoreh, Nagasasra dan Sabuk Inten-SH Mintardja, Pendekar Gunung Lawu, Kho Ping Hoo, hingga Senopati Pamungkas-nya Arswendo Atmowiloto, membuat hati ini tak puas dengan pendakian kali ini, serasa ingin kembali lagi. Mendaki lagi, ke gunung lagi.

“Kapan-kapan kita ke Ciremai yuk!” Kata ustadz Choirul menyalami aku yang berpamitan.

KUIS
Pertanyaan untuk Kuis: Apa nama lain dari Gunung Lawu?
A. Yusril Mahendra                    B. Wukir Mahendra

Jangan lupa sertakan kuponnya di Majalah ya

Kamis, 04 Agustus 2011

RINDU LAUT

Setelah lima edisi berturut-turut naik turun gunung, kali ini kru Sahabat Alam mengajak sobat Elka bertamasya ke laut. Asik..! Eit bukan berarti bosan dengan gunung ya, cuma mau buktiin di laut juga kita jaya. Kaya motonya angkatan laut aja ya?

Setelah ngobrol sedikit dengan rekan Anwar yang menjadi guide dadakan, kami memutuskan untuk ke Pantai Pasir Kencana. Obyek Wisata Pantai Pasir Kencana merupakan Obyek Wisata Utama yang dimiliki Pemerintah Kota Pekalongan lho.

Pantai ini termasuk Pekalongan Utara. Ibukota Kecamatan Pekalongan Utara terletak di Kelurahan Panjang Wetan. Wilayah Kecamatan Pekalongan Utara wilayah pesisir pantai utara (laut Jawa), yap daerah ini yang biasa kamu kenal dengan istilah Pantura. Gak heran bila sebagian wilayahnya yang berdekatan dengan pantai seringkali mengalami Rob (air laut pasang). Wilayah yang sering mengalami bencana rob antara lain; Kelurahan Panjang Wetan, Panjang Baru, Kandang Panjang, Krapyak Lor.

Selain rob, di Kecamatan Pekalongan Utara terdapat satu kelurahan yang menjadi langganan banjir yaitu Kelurahan Pabean. Kok bisa? Gak lain, karena kondisi tanahnya lebih rendah dibanding dengan daratan sekitarnya.

Pasir Kencana adalah tempat santai yang menyajikan keindahan dan kesejukan khas pantai dengan hamparan pasir pantai. Rekreasi yang ditawarkan ditempat ini selain pemandangan, yaitu bersampan dan tentu saja memancing.

Sebelum sampe ke pantai, kamu akan melihat tempat pelelangan ikan atau Pelabuhan Perikanan Nusantara di Pantai Utara Jawa. Kalau datangnya pas dengan kedatangan perahu nelayan yang baru melaut, kamu bisa menikmati suasana lelang ikan. Letak pantai ini 4,5 Km dari kota / stasiun kereta api, luas lahan pantainya 3,5 Ha. Obyek Wisata yang dikelola Kantor Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pekalongan ini dibuka untuk umum dari jam 06.00 wib – 21.00 wib.

Fasilitas yang tersedia di Pantai Kencana antara lain, mainan anak-anak dan taman bermain, panggung terbuka, kandang satwa, bangku dan taman untuk bersantai, warung makan, toilet dan lahan parkir. Komplit ya Sob? Obyek Wisata lain yang ada disekitar Pantai Pasir Kencana adalah krematorium, pura dan tambak-tambak ikan serta aquarium ikan laut yang ada di Pelabuhan Perikanan. Disini pengunjung dapat bersantai sambil menyaksikan matahari terbit / terbenam, aktivitas nelayan dan perahunya, bermain di taman, memancing, olah raga pantai atau sekedar menghirup udara pantai yang segar. Wow, seru banget ya Sob kalau kita ada di sana saat ini. Biasanya tempat ini ramai oleh pengunjung pada hari hari Ahad/ Libur dan  Jum’at pagi. Setiap pengunjung wajib membayar tiket masuk dengan harga sebesar Rp. 1.100,00 (hari biasa) ; Rp. 1.600,00 (hari Ahad/Libur) dan Rp. 2.100. Terjangkau kan harganya Sob?

Hari Selasa memang bukan waktu yang tepat untuk rekreasi, pantai terlihat sepi. Angin cukup kencang dan perut pun perlu diganjal. Tapi dalam perjalanan kembali ke camp, rekan Anwar membisiki petualangan yang menantang. Bagaimana kalau ikut perahu nelayan barang sepekan? Wah, dengar tawaran rekan Anwar semangat pun timbul kembali untuk ke laut. Bayangan perahu nelayan yang terombang-ambing, asin air laut dan perjuangan para nelayan menjaring ikan. Seminggu di laut? Berani mencoba? 
   
Box
PEKALONGAN KOTA BATIK. Pekalongan merupakan kota Batik. Dulu batik menjadi sarana perlawanan pada penjajah. Jadinya mereka mandiri, tak heran bila hingga kini mereka terus eksis. Di gang-gang, entah itu kampung Arab atau pribumi kamu akan menemukan orang-orang yang sibuk membatik atau penjual batik. Ada juga Museum batik ada juga Pasar Grosir. Selain itu,  Rumah Batik dan Kerajinan tersebar di  beberapa daerah di Kota Pekalongan. Di museum batik, Koleksi batik yang ada berasal dari berbagai daerah di nusantara seperti Jogjakarta, Surakarta, dan batik-batik daerah pesisir, seperti Cirebon, Pekalongan, Lasem, Rembang, Tuban dan Sidoarjo. Selain itu  juga terdapat koleksi batik dari Malaysia dan batik-batik kuno yang berusia puluhan bahkan seratus tahun.

Selain museum ada juga Pasar Grosir Batik Setono. Walaupun namanya pasar grosir, ternyata kita bisa membeli barang secara eceran (retail) lho. Komoditas batik, konveksi, tenun, palekat dan kerajinan merupakan bursa utama perdagangan di sentra Pasar Grosir Setono. Pasar Grosir ini mudah dijangkau, terletak 3 km disebelah timur Kota Pekalongan, tepatnya di Jl. Raya Baros yang merupakan Jalur Pantura.




Box:
ONE STOP RECREATION. Selain pantai pasir kencana, Pemkot Pekalongan sedang giat-giatnya membangun. Salah satunya adalah  Rekreasi Terpadu Pekalongan. Kawasan rekreasi ini dipersiapkan menjadi one stop recreation dengan fasilitas hiburan yang beraneka macam. Ada  Akuarium (Sea World) dengan koleksi berbagai jenis ikan laut dan ikan tawar serta biotanya. Taman bermain anak, pemandangan pantai dan muara pelabuhan dengan lalu lintas keluar masuk kapal dari dan ke pelabuhan.
Makan tauto Pekalongan ( soto Pekalongan ) juga enak sekali. Krupuk rasa tahu yang paling enak adalah buatan Pekalongan. Kalau bosan dengan pelayanan restoran, maksudnya duit kamu menipis alias cekak, mampir saja ke warung di sekitar pantai. Menunya ga kalah menarik. Kami menikmati ikan Pe dengan sambal terasi. Awalnya, ngeri juga melihat piring dengan nasi porsi jumbo, eh entah karena sambel terasinya atau laper nasi itu pun dengan segera berpindah ke perut. Hmm..Yummy!

Senin, 31 Januari 2011

Museum Sudirman Kota Magelang Panglima Besar di Museum Mini





Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya.
Kota Magelang memiliki beberapa objek wisata museum, diantaranya Museum Bumi Putera, Museum Abdul Djalil, Museum BPK, Museum Diponegoro, serta Museum Sudirman. Dari jumlah tersebut hanya satu museum yang pengelolaannya berada di bawah Pemerintah Kota Magelang, yaitu Museum Sudirman.

Sob tahu, ternyata dulu museum ini digunakan sebagai rumah peristirahatan tentara yang pada masa perang kemerdekaan merupakan kediaman Jendral Sudirman, Panglima Besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang pertama atau sebagian bapak Tentara Indonesia. Namun, sejak tahun 1976, gedung ini  dialih fungsikan sebagai Museum Jendral Sudirman.

Bangunan yang berdiri sekitar tahun 1930 tersebut, terdiri dari rumah utama dan ruang-ruang penunjang (service area) yang berada di belakang. Di belakang bangunan utama terdapat deretan kamar-kamar pejuang seperti, kamar Soepardjo Roestam ajudan Jenderal Sudirman, kamar mandi dan dapur. Sebagian diantaranya masih dalam tahap penyempurnaan, terdiri atas perpustakaan, beberapa wisma tamu, dan kamar mandi. Nah, kalau nanti bangunan ini selesai dilengkapi, barangkali suasana museum akan bertambah semarak ya Sob.

Museum ini menyimpan banyak cerita tentang kehidupan Jenderal Sudirman sebagai seorang suami dan ayah serta pemimpin tertinggi dalam kemiliteran. Seorang Jenderal yang tidak pernah menyerah pada penjajahan Belanda bahkan oleh penyakit yang dideritanya meski akhirnya harus menghembuskan nafas terakhirnya pada 29 Januari 1950 di Rumah Peristirahatan Tentara Badaan, Magelang.

Bagi masyarakat Magelang dan sekitarnya yang barangkali pernah mendengar atau mungkin malah pernah berkunjung ke sini, museum ini memang tergolong mini terletak di Jalan Ade Irma Suryani No C-7 atau tepat di sudut selatan Taman Badaan.

Kenapa di Magelang ya? Ini ngga lepas dari sejarah perkembangan tentara kita di masa revolusi. Bahkan jauh di masa awal pemerintahan kolonial Belanda, Magelang sudah menjadi kawah “candradimuka” penggodokan bagi calon tentara.

Magelang adalah kota terakhir perjuangan Panglima Besar (Pangsar) Sudirman, setelah pengembaraan gerilyanya di seputaran Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Paska Agresi Militer Belanda II pada tahun 1949, Sudirman yang kemana-mana ditandu karena sakit paru-paru akut bersedia dirawat di Magelang. Kemudian atas kehendak-Nya jua ia menghembuskan nafasnya pada bulan Januari 1950 di Bumi Tidar. Nah, gedung yang saat ini menjadi museum adalah rumah tempat almarhum wafat.

Sayangnya, museum nampak lengang dari aktifitas kunjungan. Sepinya pengunjung di museum ini, bisa jadi karena ketidaktahuan masyarakat, atau memang kesadaran masyarakat yang rendah akan penghargaan terhadap sejarah bangsanya. Padahal letak Museum Sudirman sangat strategis, lho. Di depannya ada Taman Badaan yang selalu rame pengunjung. Atau, mestinya pengelola bekerjasama dengan sekolah-sekolah untuk bergiliran mengunjunginya. 

Mengenal Sudirman

Hmm... siapa tak kenal nama Sudirman, Sang Panglima Besar TNI. Sejak SD kita sudah mendengar tekad dan semangat jiwa patriotisme tokoh tentara ini. Sudirman dilahirkan pada hari Senin, tanggal 24 Januari 1916 di Purbalingga, Banyumas. Beliau adalah putra dari Bapak Karsidi Pawiradji dan simbok Siyem. Karena keterbatasan ekonomi, ia kemudian diambil sebagai anak angkat oleh R Cokrosunaryo, Camat Rembang, Purbalingga. Atas bantuan orang tua angkatnya itulah Sudirman kecil bisa mengenyam dunia pendidikan.

Sudirman mengawali masa sekolahnya di HIS Gubernemen Purwokerto sampai kelas VII. Ia kemudian meneruskannya di pawiyatan Taman Siswa dan Wiworo Tomo karena kepindahannya ke Cilacap hingga lulus. Pendidikan MULO dijalaninya di Wiworo Tomo. Sudirman kecil menyukai petualangan. Ia memang termasuk siswa yang aktif dalam kegiatan di Hizbul Wathoni (Pramuka), sebuah organisasi kepanduan di bawah Muhammadiyah. Setelah  sekolahnya selesai,  ia kemudian mengabdikan diri sebagai guru di HIS Muhammadiyah Cilacap. Bahkan Pak Dirman pernah menjabat sebagai kepala sekolahnya.

Kedatangan Jepang di tanah air menyebabkan Sudirman ikut memanggul senjata bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA). Bahkan ia diangkat sebagai Daidanco PETA di Kroya. Di akhir pendudukan Jepang, ia diasingkan ke Bogor.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan beliau diangkat sebagai Kepala BKR Karesidenan Banyumas. Pada 5 Oktober 1945 diangkat sebagai Kepala TKR Banyumas Divisi V Purwokerto dengan pangkat Kolonel. Ia pun kemudian terpilih menjadi Pangsar TKR pada 12 November 1945 berpangkat Jenderal peletak dasar-dasar moral, mental, serta kepemimpinan dan kepribadian TNI.

Jendral Sudirman yang akrab dipanggil Pak Dirman ini terpilih karena terkenal sebagai komandan tentara yang bijak dan bersikap kebapakan. Sikap ini sudah ditunjukkan jauh sebelum ia menjadi tentara. Setamat pendidikan guru di HIK Mohammadiyah Solo tahun 1934, ia menjadi Kepala SD Mohammadiyah di Cilacap, sebelum Jepang menyerbu Indonesia. Sebagai kepala sekolah, ia bersikap terbuka, mau mendengarkan pendapat orang lain, dan selalu siap memberi jalan pemecahan terhadap setiap masalah yang timbul di kalangan para guru. Majalah Forum Keadilan edisi 9 Januari 2000 menyebutkan ia menjadi tenaga pengajar di sekolah menengah Mohammadiyah Cilacap, di mana ia juga aktif di organisasi Kepanduan Islam Hizbul Wathon.

Sudah sejak belia keteguhan hati Sudirman terpancar. Suatu malam di tengah dinginnya udara malam pegunungan Dieng, sekelompok pemuda Kepanduan Hisbul Wathon sedang berkemah. Ketika banyak rekannya yang meninggalkan perkemahan karena udara dingin yang menusuk, sebagai pemimpin kepanduan, Sudirman bertahan sampai pagi.

Jendral Sudirman adalah sosok patriotisme yang tidak kenal menyerah. Walau pun dalam keadaan sakit dan harus ditandu, sebagai Panglima Besar beliau menanamkan semangat juang yang tinggi dan secara langsung memimpin perang gerilya. Dengan adanya perlawanan yang tidak kenal menyerah itu akhirnya membuat Belanda meninggalkan Indonesia. Wah, semangat beliau patut di contoh ni Sob!


Mengenang Jejak

Pertempuran heroik yang pernah dipimpinnya diantara lain adalah Pertempuran Ambarawa dan Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Dalam kles kedua tersebut, ia memilih memimpin gerilya dengan keluar masuk hutan, turun naik gunung dan jurang daripada menyerah kepada Belanda, meskipun dalam keadaan sakit parah. Ia pernah dirawat di RS Panti Rapih, sebelum kemudian beristirahat di Magelang.

Tanggal 7 Mei 1949 ditandatangani pernyataan bersama Roem-Van Royen untuk menyelesaikan konflik bersenjata di meja perundingan. Dengan demikian, usai sudah perang antara Republik Indonesia dan Belanda. Panglima Sudirman memasuki kota Yogya lagi dari desa Ponjong tanggal 9 Juli 1949, setelah berfoto bersama dengan pembawa tandu terakhir yang dipakai menyeberangi Kali Opak dekat Piyungan.
Pada tanggal 27 Desember 1949, pemerintah Belanda secara resmi menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia. Sayang, Pak Dirman tidak dapat menyaksikan hasil perjuangannya lebih lanjut. Kuman tuberkulosis yang semakin menggerogoti paru-parunya selama ia berbulan-bulan masuk keluar hutan akhirnya mengalahkannya. Pada tanggal 29 Januari 1950, beliau  meninggal dunia di Rumah Peristirahatan Tentara Badakan, Magelang. Pahlawan Kemerdekaan Nasional ini dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Sudirman meninggalkan enam orang putra putri yang masih kecil saat itu. Keenam putra-putri beliau adalah Achmad Tidarwono, Didi Pratiastuti, Didi Suciastuti, Taufik Efendi, Didi Prijiati, dan Titi Wahyu Setyaningsih.

Biografi
Nama        : R.Sudirman
Lahir    : Senin,24 January 1916 atau dalam penanggalan Jawa 18 Maulud 1846 di Wuuku Galungan, Desa Bantar Barang, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga.
Keluarga    : Istri: Siti Alifah, lahir : Senin 28 Desember 1920.  Putri: Mr.Sastroatmojo dari Cilacap.
                        Mereka mempunyai 3 anak laki-laki dan 4 perempuan.
Pendidikan    : HIS Mulo Wiwowro Tomo di Cilacap. Aktif dalam Kepanduan Bangsa Indonesia/KBI dan Hizbul Wathon/ HW
Meninggal    : Ahad 29 January 1950 pukul 18.30 WIB dalam usia 34 tahun Dimakamkan diPemakaman  Milliter Semaki Yogyakarta

Bintang Jasa Kehormatan/Kenegaraan :
•    Bintang RI Adipurna
•    Bintang RI Adipradana
•    Bintang Mahaputra Dipurna
•    Bintang Sakti
•    Bintang Gerilya,bintanag-bintang dan empat lencana-lencana. Kartika Eka Paksi Tingkat I. sebagai penghormatan atas jasa-jasa maka pada waktu wafat, pangkatnya dinaikan menjadi Jendral

Selasa, 18 Januari 2011

SDIT Baiturahman Sukapura, Setiap Jumat Hari Berinfak



Sob Elka, adik-adik kita di SDIT Baiturrahman Sukapura meski masih SD kepedulian mereka sama saudara-saudara kita yang tertimpa musibah erupsi Gunung Merapi ternyata enggak kalah dengan kakak-kakaknya. Mereka berhasil menggalang dana jutaan, sebagian dibagikan lebih dulu lewat PKPU. Kali ini, Kamis 13/01 mereka mengundang SAHABAT ALAM untuk datang ke markasnya, wah ternyata mereka menitipkan uang sebesar 2.472.000 (dua juta empat ratus tujuh puluh dua ribu rupiah). “Uang ini hasil pengumpulan uang saku mereka, kami menetapkan setiap Jumat adalah hari berinfak,” bilang Pak Khaerudin, SPd Kepsek SDIT Baiturrahman sambil menunjukkan celengan infak. Wah perlu ditiru neh semangat berinfak mereka. 

Nah bagi  sobat yang mau bekerjasama bareng SAHABAT ALAM bisa hubungi kami di 021-33413279 ato imel alamsahabat3@gmail.com buka deh blognya  http://sahabatalam3.blogspot.com/  eh di http://sabili.co.id/sahabat-alam/sdit-baiturahman-sukapura-setiap-jumat-hari-berinfak   juga ada. (Eman Mulyatman) 

Kamis, 13 Januari 2011

Suroloyo Sekali Naik Lima Puncak Terlampaui








Tempat pertapaan Sultan Agung memberi Sob kesempatan meneropong empat gunung besar di Pulau Jawa, Candi Borobudur plus pemandangan matahari terbit

Kalau kamu enggak keduluan sama embun pagi yang berhamburan diterpa sinar matahari pagi, kamu bisa melihat empat gunung besar di Pulau Jawa, yaitu Merapi, Merbabu, Sumbing dan Sindoro menyembul di antara kabut putih. Satu puncak lainnya yang bisa kamu nikmati dari balik kabut putih itu adalah stupa puncak Candi Borobudur yang tampak berwarna hitam muncul di permukaan lautan kabut.

Jadi kamu harus berangkat pagi-pagi sekali. Harus kuat mengalahkan tarikan selimut pukul dua dinihari. Tapi semua itu akan tertebus ketika sampai di puncak Suroloyo. Puncak Suroloyo adalah bukit tertinggi di Pegunungan Menoreh yang berada pada 1.091 meter di atas permukaan laut. Oya, pegunungan Menoreh ini juga sering menjadi setting kisah-kisah fiksi dalam dunia persilatan lho.

Untuk menikmatinya, kamu harus melewati jalan berkelok tajam serta menaklukkan tanjakan yang cukup curam. Dua jalur bisa dipilih, pertama rute Jalan Godean - Sentolo - Kalibawang dan kedua rute Jalan Magelang - Pasar Muntilan - Kalibawang.

Setelah berdoa, jangan lupa siapkan fisik supaya prima. Tapi, jangan khawatir, jalan ke puncak bisa pakai motor atau mobil kok.  Maka siapkan kendaraan yang berisi bahan bakar penuh. Eit jangan lupa ban serep. Karena kayaknya gak ada deh tukang tambal ban di gunung.

Setelah berjalan kurang lebih 40 km, kami menemui papan penunjuk ke arah Sendang Sono. Berbelok ke kiri untuk menuju Puncak Suroloyo, kami tergoda untuk menikmati pemandangan. Sementara Mas Sulhan, salah seorang relawan Borobudur yang menjadi guide kami, meminta kami berjalan terus sejauh 500 meter hingga menemui pertigaan kecil.

Nah ketika asyik berfoto, seorang petani menyarankan agar kami berbelok ke kiri karena jalannya lebih halus. Dari situ, kamu masih harus menanjak lagi sejauh 15 km untuk menuju Puncak Suroloyo.

Bukit Suroloyo ditandai dengan terlihatnya tiga buah gardu pandang yang juga dikenal dengan istilah pertapaan, yang masing-masing bernama Suroloyo, Sariloyo dan Kaendran. Suroloyo adalah pertapaan yang pertama kali dijumpai.

Letih dan lelah setelah melahap 286 anak tangga dengan kemiringan 30-60 derajat akan tertebus setelah sampe puncak. Dari puncak, kamu bisa melihat Candi Borobudur dengan lebih jelas, Gunung Merapi dan Merbabu, serta pemandangan kota Magelang bila kabut tak menutupi.

Pertapaan Suroloyo merupakan yang paling legendaris. Menurut cerita, di pertapaan inilah Raden Mas Rangsang yang kemudian bergelar Sultan Agung Hanyokrokusumo bertapa untuk menjalankan wangsit yang datang padanya. Dalam kitab Cabolek karya Ngabehi Yosodipuro yang ditulis pada abad 18, Sultan Agung mendapat dua wangsit, pertama bahwa ia akan menjadi penguasa tanah Jawa sehingga mendorongnya berjalan ke arah barat Kotagede hingga sampai di Pegunungan Menoreh. Kedua, bahwa ia harus melakukan tapa kesatrian agar bisa menjadi penguasa.

Menuju pertapaan lain, kamu akan melihat pemandangan yang berbeda pula. Di puncak Sariloyo yang terletak 200 meter barat pertapaan Suroloyo, kamu akan melihat Gunung Sumbing dan Sindoro dengan lebih jelas. Sebelum mencapai pertapaan itu, kamu bisa melihat tugu pembatas propinsi DIY dengan Jawa Tengah yang berdiri di tanah datar Tegal Kepanasan. Dari pertapaan Sariloyo, bila berjalan 250 meter dan naik ke pertapaan Kaendran, kamu akan dapat melihat pemandangan kota Kulon Progo dan keindahan panati Glagah.

Ngomong-ngomong untuk apa ya Sahabat Alam ke Suroloyo? Ya, memang kita tidak boleh terjebak oleh mitos. Bisa musyrik. Menurut Ustadz Muslih yang tinggal di desa Wono Kriyo, sebuah desa yang tak jauh dari Suroloyo, cerita itu hanya jadi kenangan masa lalu. Sekarang penduduk sekitar Suroloyo adalah muslim. ”Acara-acara sesajen sudah berganti menjadi istighosah,” ungkapnya.

Mungkin Sob sudah khatam dengan cerita Api dibukit Menoreh dan Naga Sasra Sabuk Inten. Tapi, bukan berarti pertarungan itu sudah selesai. Setiap saat aqidah kaum muslimin bisa terancam. Selain kemiskinan juga kurangnya informasi (baca: kebodohan) menjadi sarana tepat aksi-aksi pemurtadan.

Ustadz Muslih yang kami temui tengah bersiap untuk mengikuti Daurah (training) anti pemurtadan bersama Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia. Daurah ini berlangsung di Masjid Ruhul Islam. Memang pasca erupsi Merapi, warga sekitar sabuk Merapi akidahnya terancam.

Setelah menikmati Getuk asli bikinan ibu Muslih, kami pun pamit. Perjalanan kami sejenak terhenti. Kami mengaso di masjid Ruhul Islam. Kamu tahu sejarah masjid Ruhul Islam? Menurut keterangan Bapak Ustadz Imam Santosa, sekretaris DDII Magelang, masjid Ruhul Islam dibangun oleh Almarhum M Natsir – pendiri DDII. Masjid ini tak jauh dan seakan dibangun berhadap-hadapan dengan sekolah Taruna Nusantara yang didirikan oleh Almarhum Benny Moerdany.

Wah, jadi pertarungan ideologi ini masih terus berlangsung ya. Karena itu kamu harus giat belajar dan mengerti sejarah. Agar kamu tidak jadi orang-orang yang kalah. Jangan sampai anak cucu kita bilang, wah itu Istiqlal hasil karya nenek moyang kita. Seperti kita memandang Borobudur saat ini. (Eman Mulyatman)

Rabu, 05 Januari 2011

Nostalgia Museum Kereta Api Ambarawa






Kereta Api Tak Sekadar Alat Tranportasi

Naik Kereta Api tut tut tut, wah lagu itu sudah ga cocok lagi ya. Kereta sekarang kan pakai diesel atau listrik. Tapi di Ambarawa masih ada lho kereta api uap. Jadi kita masih bisa denger tut tut tut...

Setelah tiga edisi berturut-turut menulis tentang Merapi, Sahabat Alam kali ini membawa sobat eL-Ka bernostalgia ke Museum Kereta Api Ambarawa. Museum kereta api Ambarawa ini terletak 37 km dari Semarang, 81 km dari Yogyakarta dan 63 km dari Solo. Beberapa kali memang kami melewati jalur ini, tapi baru terpenuhi sekarang. Apalagi kalau mengklik search engine di internet, wah banyak sekali berita tentang museum KA Ambarawa ini.

Tapi jangan terkecoh, Situs aslinya adalah, http://www.indonesianheritagerailway.com. Diluncurkannya situs ini untuk meningkatkan ketertarikan masyarakat kepada kereta tua dan menyajikan informasi tentang koleksi artefak-artefak bersejarah kereta api di Indonesia.

Situs dengan motto "Lestarikan Kereta Api" tersebut secara teknis didesain dengan prinsip kemudahan untuk diakses dan menarik pengunjung. "Situs ini dibangun oleh komunitas pencinta kereta api. Ini milik kita semua," kata Ella seperti dikutip dari situs pecinta kereta api, http://www.semboyan35.com/.
di sebelah kiri layar ada menu yang berinformasikan tentang unit organisasi pusat pelestarian benda dan bangunan PTKA, program-program kegiatan, berita-berita terkait pelestarian kereta api serta komunitas pelestarian kereta api. Sedangkan di sebelah kanan ada menu tentang benda dan bangunan kereta api seperti stasiun, bangunan, konstruksi, jalan rel, persinyalan, telekomunikasi, sarana, museum, gallery dan arsip tua.

"Indonesia memiliki 600 bangunan stasiun sebelum tahun 1939. Benda-benda seperti kereta dan lokomotif ada 146 unit yang tersebar dari Sumatera Utara dan Jember. Kita juga memiliki tiga lokasi museum kereta api, yang terbesar di Ambarawa," kata Ella.

KA Uap Masuk Museum
Sejak tahun 1953, DKA (Djawatan Kereta Api) mulai mengganti peran lokomotif uap dengan lokomotif diesel; sehingga memasuki tahun 1970, lokomotif uap mulai masuk era barang antik seiring tidak lagi diproduksi oleh pembuatnya di Eropa maupun di Amerika. Oleh karena itu muncul ide untuk mengumpulkan sejumlah lokomotif uap ke museum.

Pada 8 April 1976, Ir Soeharso (Kepala Eksploitasi Tengah PJKA/Perusahaan Jawatan Kereta Api) bertemu Soepardjo Roestam (Gubernur Jawa Tengah) untuk membahas rencana pembangunan museum kereta api serta berinisiatif mengumpulkan lokomotif uap dan menyimpannya di Stasiun Ambarawa. Kepala Eksploitasi Tengah PJKA membentuk panitia yang bertugas mengumpulkan materi museum dan kemudian mengajukan konsep rencana kerja kepada Gubernur Jawa Tengah pada tanggal 18 Mei 1976.

Pada 6 Oktober 1976, Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Tengah meninjau bakal lokasi museum kereta api di stasiun Ambarawa dan menyetujui rencana pembangunan museum tersebut.

Pada akhir 1976, terkumpul sejumlah 22 lokomotif uap yang menjadi koleksi museum ini. Stasiun Ambarawa resmi berfungsi museum sejak 21 April 1978 dan diresmikan oleh Rusmin Noerjadin (Menteri Perhubungan Republik Indonesia) dengan menikmati paket tour kereta wisata bergerigi bersama rombongan.

Suasana museum ini masih menunjukkan suasana stasiun kereta api jaman dulu, yang masih terjaga dan terawat rapi. Berada didalam stasiun kereta api rasanya seperti kembali ke suasana tempo dulu, pengunjung dapat melihat kantor kepala stasiun, ruang tunggu, loket peron, peralatan komunikasi, topi masinis, alat pembolong tiket, stempel, mesin ketik, jam kuno, perabot meja kursi tempo dulu dan sebagainya.

Untuk masuk ke dalam museum ini kita cukup membayar Rp. 5000. Pertama kali masuk ke museum ini kita akan menjumpai sebuah penggalan roda dan rel kereta api bergigi yaitu suatu bangunan rel kereta api yang digunakan untuk jalan menanjak. Kayaknya rel ini di Indonesia hanya ada di Ambarawa). Di belakangnya ada bangunan stasiun kuno bertuliskan WILLEM I. Ada 21 buah lokomotif baik yang berbahan bakar kayu maupun batu bara tampak tertata dengan rapi di museum ini. Setiap pengunjung dapat naik dan melihat kedalam ruang masinis lokomotif ini untuk melihat instalasi bahan bakar dan ruang kemudi lokomotif-lokomotif tua ini.

Sayang museum kurang dikelola dengan baik. Kereta dibiarkan berada di ruang terbuka, kehujanan dan keanginan sehingga bisa mempercepat kerusakan. Apalagi Ambarawa termasuk daerah lembab. Selain itu perlu adanya keberadaan pemandu yang menjelaskan tentang KA uap. Bukankah kereta api bukan sekadar transportasi? Tapi juga sebagai alat perjuangan merebut kemerdekaan.

Memasuki ruang galeri (dulunya ruang pegawai kereta api) kita dapat menyaksikan benda-benda kuno peninggalan jaman Belanda lainnya seperti pesawat telegram morse, pesawat telepon kuno, stempel pejabat stasiun kereta api jaman Belanda, dan berbagai macam koleksi lainnya.

Selain koleksi-koleksi kuno tersebut kita juga bisa menikmati perjalanan wisata dengan rute Ambarawa – Bedono menggunakan kereta kuno yaitu menggunakan kereta wisata bergigi yang berbahan bakar kayu jati. Untuk menikmati perjalanan selama kurang lebih 2 jam ini kita harus mencharter kereta tersebut seharga Rp 3.250.000, - .

Bagi Sahabat yang tidak punya cukup uang, tidak usah kecil hati kamu bisa menikmati wisata kereta yang lain yang tak kalah serunya yaitu Lori Wisata jurusan Ambarawa – Tuntang. Untuk menikmati perjalanan wisata ini, Sahabat hanya cukup merogoh kocek sebesar Rp. 10.000,-. Berbeda dengan kereta jurusan Ambarawa – Bedono Lori Wisata Ambarawa – Tuntang ini tidak bergigi dan berbahan bakar bensin.

Begitu lori dengan kecepatan kurang dari 50 km/jam ini keluar dari stasiun Ambarawa, kita akan menjumpai perkampungan penduduk. Kita dapat menyaksikan berbagai macam aktifitas warga disekitar rel ini. Ada yang menarik dari kereta ini, dalam lori ada orang yang bertugas sebagai pengatur lalu lintas yaitu setiap akan menjumpai perempatan orang ini turun berlari ke perempatan tersebut untuk menghentikan kendaraan yang akan lewat.

Lori Wisata Ambarawa - Tuntang
Setelah keluar dari perkampungan mata kita akan dibuai oleh indahnya hamparan sawah dan pemandangan pegunungan Ungaran, Andong dan Merbabu. Tak hanya itu beberapa menit kemudian kita akan melewati Rawa Pening. Di sini kita dapat menyaksikan orang-orang memancing sambil mengendarai perahu-perahu kecil. Ada juga perahu-perahu besar yang digunakan untuk mengambil sedimentasi eceng gondok di rawa ini.

Setelah setengah jam perjalanan kita akan sampai di Stasiun Tuntang. Disini kita akan menyaksikan stasiun kecil yang bergaya arsitektur Eropa Kuno. Disini Lori hanya akan berhenti sebentar dan kemudian balik lagi ke Stasiun Ambarawa.

PT Kereta Api (Persero) menyediakan 2 (dua) kereta api wisata di Ambarawa. Pertama, kereta wisata rute Ambarawa - Bedono (9 km) yang ditarik lokomotif uap bergigi B25 02 atau B25 03. Yang menariknya, kedua kereta penumpang ini berdinding kayu. Di dinding kereta penumpang tidak ada kaca jendela sehingga penumpang dapat menikmati semilir angin nan sejuk dan indahnya pemandangan selama dua jam perjalanan.

Jalur kereta api rute Jambu - Bedono ini berada di ketinggian 693 meter di atas permukaan air laut. Panorama di sepanjang perjalanan semakin luar biasa. Hamparan Gunung Ungaran dan Gunung Merbabu menjadi latar belakang yang mempesona. Karena letaknya yang cukup tinggi inilah di sepanjang rute Jambu - Bedono ini terdapat rel bergerigi. Fungsinya adalah untuk menahan agar kereta api tidak mengalami kesulitan menanjaki jalur tersebut.

Palagan Ambarawa
Ingat Palagan Ambarawa? Hem ya, di pertigaan Ambarawa sebelum masuk museum kamu akan disuguhi pemandangan heroik museum Palagan Ambarawa. Mengutip dari situs bapak-bapak kita di TNI Angkatan darat, www.tniad.mil.id/1palagan_ambarawa.php, peristiwa Palagan Ambarawa merupakan peristiwa penting karena merupakan peristiwa pertempuran yang pertama kali dimenangkan bangsa Indonesia setelah kemerdekaan. Peristiwa tersebut menjadi momentum bersejarah dalam  pergelaran militer dengan gerak taktik pasukan darat. Berdasarkan kemenangan yang gemilang dalam Palagan Ambarawa tersebut, selanjutnya setiap tanggal 15 Desember diperingati sebagai Hari Infanteri dan berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 163  tahun 1999 diabadikan menjadi " Hari Juang Kartika ". di museum ini juga ada kereta yang bertuliskan heroik. “Merdeka ataoe Mati!”

Kota Ambarawa sejak jaman hindia Belanda merupakan daerah militer, sehingga Raja Willem I berkeinginan untuk mendirikan bangunan stasiun kereta api guna memudahkan mengangkut pasukannya untuk menuju Semarang. Maka pada 21 Mei 1873 dibangunlah stasiun kereta api Ambarawa dengan luas tanah 127. 500 meter persegi.

Masa kejayaan stasiun Ambarawa yang lebih dikenal dengan sebutan WILLEM I, dihentikan pengoperasiannya sebagai Stasiun Kereta api dengan jurusan Ambarawa – Kedungjati – Semarang. Dan tahun 1976 untuk lintas Ambarawa – Secang – Magelang juga Ambarawa – Parakan – Temanggung.

Dengan ditutupnya Stasiun KA Ambarawa, maka pada 8 april 1976 gubernur Jawa Tengah Bapak Soepardjjo Rustam bersama kepala PJKA Eksploitasi Soeharso memutuskan Stasiun Ambarawa dijadikan musem kereta api, dengan mengumpulkan 21 buah lokomotif yang pernah andil dalam pertempuran khusunya mengangkut tentara Indonesia. Yuk naik kereta.


BOX
Kereta bergerigi
Jalur kereta api rute Semarang–Tanggung-Kedung Jati-Solo–Yogyakarta selesai dibangun dengan susah payah oleh NIS (Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij) dan beroperasi pada tanggal 10 Juni 1872, termasuk lintas cabang Kedungjati-Tuntang-Ambarawa selesai dibangun pada tahun 1873. Bangunan Stasiun Willem I (atau yang lebih dikenal dengan stasiun Ambarawa) dibuat dari kayu dengan luas areal 127500 meter persegi dan resmi dioperasikan pada 21 Mei 1873. Jalur Kereta Api dari Jambu menuju Gemawang harus melewati bukit yang terjal (kemiringan topografi 65 derajat). Untuk menghemat biaya, dibangunlah rel bergigi dan membeli lokomotif uap bergigi yaitu seri B25. NIS melanjutkan pembangunan jalur kereta api dari Ambarawa ke Secang (termasuk rel bergigi rute Jambu-Bedono-Gemawang sepanjang hampir 6.5 kilometer) dan resmi beroperasi sejak tanggal 1 Februari 1905. Di jalur ini, tujuan transportasi kereta api untuk kegiatan militer lebih diutamakan karena laju lokomotif uap B25 hanya mampu merambat dalam kecepatan terbatas 15 kilometer per jam. Stasiun Ambarawa (Willem I) yang ada sekarang adalah bangunan kedua yang dibangun tahun 1907, menggantikan bangunan lama yang terbuat dari kayu.

KUIS
Apa sebutan untuk kepala penarik gerbong kereta api?

Bagi Tiga pengirim pertama yang mengirimkan jawaban dengan benar, akan mendapat bingkisan menarik. So kirim jawaban kamu secepatnya melalui kartu pos disertai kupon ke redaksi eL-Ka: Majalah SABILI, Jalan Cipinang Cempedak III No. 11A Polonia, Jakarta Timur 13340

Jawaban edisi 09/XVIII: Museum